Nilai Investasi di Jember 2025 Capai Rp2,57 Triliun, Bisnis Properti Penyumbang Terbesar
Hingga penutupan tahun 2025, realisasi investasi di Kabupaten Jember melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
JEMBER – Hingga penutupan tahun 2025, realisasi investasi di Kabupaten Jember melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Berdasarkan data dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM per Januari 2026, Jember berhasil membukukan nilai investasi sebesar Rp2,57 triliun.
Angka ini menunjukkan pertumbuhan luar biasa sebesar 70,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp1,51 triliun.
Pencapaian melampaui ekspektasi pemerintah daerah yang sebelumnya mematok target Rp1,85 triliun untuk periode 2025-2029.
"Investasi adalah urat nadi pembangunan. Dengan masuknya modal sebesar Rp2,57 triliun dari 457 unit usaha baru, kami berhasil menciptakan lapangan kerja bagi hampir 10.000 warga Jember. Fokus kami adalah memastikan investasi ini memberikan multiplier effect bagi kesejahteraan masyarakat di tingkat akar rumput," kata Bupati Jember Muhammad Fawait, Kamis (2/4/2026).
Fawait menerangkan, geliat ekonomi Jember didominasi oleh sektor Properti dan Kawasan Industri yang menyumbang angka fantastis sebesar Rp1,44 triliun.
Berikut adalah lima sektor utama yang memperkokoh fondasi ekonomi Jember sepanjang 2025:
1. Properti & Kawasan Industri: Rp1,44 triliun
2. Industri Makanan: Rp302,86 miliar
3. Kimia & Farmasi: Rp212,04 miliar
4. Mineral Non-Logam: Rp176,21 miliar
5. Perdagangan & Reparasi: Rp138,4 miliar
Di tengah euforia investasi, Pemkab Jember tetap waspada terhadap stabilitas harga.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), per Maret 2026, inflasi tahunan (year-on-year) Jember berada di angka 3,84 persen.
Angka ini sedikit di atas inflasi Jawa Timur (3,79 persen) dan Nasional (3,48 persen), yang menandakan adanya dinamika permintaan pasar yang tinggi di Jember.
Menghadapi hal tersebut, Fawait memastikan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bekerja ekstra keras melalui strategi 4K yakni Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif.
"Kami tidak ingin pertumbuhan ekonomi tinggi tapi rakyat kesulitan membeli bahan pokok. Itulah mengapa kami rutin melakukan operasi pasar dan memperkuat sinergi lintas instansi untuk mengamankan stok BBM, LPG, hingga bahan pangan agar tetap terjangkau," jelas Fawait.
Laporan ekonomi menunjukkan adanya kenaikan signifikan pada kelompok pengeluaran perawatan pribadi sebesar 13,66 persen.
Namun, hal ini berhasil diimbangi oleh deflasi pada sektor teknologi informasi dan jasa keuangan sebesar 2,56 persen yang membantu menjaga daya beli masyarakat agar tetap stabil.
Fawait menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen untuk terus menjaga iklim usaha yang kondusif, transparan, dan ramah investor.
"Strategi ini diharapkan membawa Jember menuju kemandirian ekonomi yang inklusif, di mana kemajuan industri berjalan beriringan dengan kesejahteraan sosial," tutupnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.



