Kisah Atikasahila, Menenun Pengabdian di Balik Bilik Mengaji dan Harapan untuk Kesejahteraan Guru Ngaji
Penyaluran insentif guru ngaji di kelurahan kranjingan, Kecamatan Sumbersari. (Foto : M. Abdul Basid / TIMES Indonesia)

Kisah Atikasahila, Menenun Pengabdian di Balik Bilik Mengaji dan Harapan untuk Kesejahteraan Guru Ngaji

Di tengah deru modernitas, sosok-sosok penjaga moral bangsa seringkali bergerak dalam senyap, jauh dari hiruk-pukuk apresiasi materi yang besar.

TIMES Jember,Selasa 10 Maret 2026, 14:00 WIB
136
M
M Abdul Basid

JEMBER

Di tengah deru modernitas, sosok-sosok penjaga moral bangsa seringkali bergerak dalam senyap, jauh dari hiruk-pukuk apresiasi materi yang besar.

Salah satunya adalah Atikasahila (26), seorang ibu rumah tangga yang telah mewakafkan empat tahun terakhir hidupnya untuk menjadi pelita bagi anak-anak di lingkungan Pondok Al-Azhar (Semaza) melalui jalur mengaji.

Lahir dari rahim pesantren, Atikasahila membawa semangat santri yang kental: bahwa ilmu adalah amanah yang harus disampaikan, bukan komoditas yang diperjualbelikan.

Meskipun profesi utamanya adalah mengurus rumah tangga, panggilan untuk mengajar di musala tetap ia jalankan dengan konsisten.

​Dalam sebuah perbincangan hangat, Atika mengungkapkan realita yang dihadapi oleh banyak guru ngaji di akar rumput.

Dengan jadwal mengajar yang tidak setiap hari, ia menerima honorarium di kisaran Rp100.000 per bulan.

Angka yang bagi sebagian orang mungkin hanya cukup untuk sekali makan, namun bagi Atika, itu adalah bentuk keberkahan.

​"Kalau buat guru ngaji, memang tidak bisa dijadikan acuan pekerjaan utama. Karena saya lulusan pesantren, intinya adalah mengabdi. Saya tidak mengharapkan (materi) itunya," ujar Atikasahila dengan nada rendah hati. Selasa (10/3/2026).

​Bagi Atika, insentif yang ia terima bukan sekadar upah, melainkan bonus dari sebuah perjalanan spiritual mendidik generasi muda.

Ia memandang peran ini sebagai kontribusi nyata bagi masyarakat, meski harus membagi waktu dengan urusan domestik sebagai ibu rumah tangga.

​Keberlangsungan pengabdian para guru ngaji ini tidak lepas dari perhatian pemerintah daerah.

Atikasahila secara khusus menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Bupati Jember Muhammad Fawait atas inisiatif pemberian bantuan honorarium bagi para guru ngaji.

Program ini dinilai sebagai bentuk pengakuan negara terhadap peran krusial guru agama di tingkat desa dan kelurahan. ​

"Terima kasih banyak untuk gus bupati, terutama untuk melanjutkan honorarium bantuan guru ngaji ini. Harapan saya, program ini bisa terus berkelanjutan ke depannya," tambahnya.

​Kisah Atika adalah potret ribuan guru ngaji lainnya yang menjadi benteng pertahanan karakter anak bangsa.

Dukungan berkelanjutan dari pemerintah, seperti yang diharapkan Atika, menjadi krusial agar api semangat pengabdian ini tidak padam oleh beban ekonomi yang kian menghimpit. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:M Abdul Basid
|
Editor:Dody Bayu Prasetyo

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jember, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.