Bedah Buku Babad Alas, Fawait dan Bima Arya Cerita Realitas Keras Kepemimpinan Daerah
Kepemimpinan daerah bukan sekadar panggung politik, melainkan medan tempur integritas dan strategi dalam menuntaskan persoalan rakyat.
JEMBER –
Kepemimpinan daerah bukan sekadar panggung politik, melainkan medan tempur integritas dan strategi dalam menuntaskan persoalan rakyat.
Hal tersebut mengemuka dalam acara Bedah Buku Babad Alas karya Wakil Menteri Dalam Neger Bima Arya Sugiarto, yang dihadiri langsung oleh Bupati Jember Muhammad Fawait, di Aula FISIP Universitas Jember, Jumat (13/2/2026).
Dalam pemaparannya, Bima menegaskan bahwa tantangan sesungguhnya bagi seorang pemimpin justru muncul setelah kontestasi berakhir.
Ia menyebut menjalankan pemerintahan jauh lebih berat dibandingkan masa kampanye.
"Beratnya kampanye itu tidak seujung kuku dibanding menjalankan pemerintahan. Saat kampanye, lawan terlihat jelas. Namun saat memimpin, tidak selalu jelas siapa kawan dan siapa yang berseberangan," ujar Bima.
Ia mengibaratkan kepemimpinan seperti tokoh Bima dalam pewayangan yang membuka Alas Amarta, penuh risiko dan membutuhkan keseimbangan antara keberanian bertindak dengan kebijaksanaan moral.
Bima menekankan bahwa kebijakan publik harus berpijak pada nilai inklusivitas dan keberpihakan pada masyarakat, bukan sekadar kalkulasi politik jangka pendek.
Merespons hal tersebut, Bupati Jember Fawait menyampaikan bahwa pengalaman Bima merupakan cermin bagi dinamika yang ia hadapi di Kabupaten Jember.
Saat mulai memimpin, Jember dihadapkan pada rapor merah kemiskinan ekstrem tertinggi di Jawa Timur, serta persoalan akut stunting dan kesehatan ibu-anak.
"Kami tidak punya pilihan selain melakukan reformasi pelayanan publik secara radikal. Prioritas utama kami adalah menjamin hak dasar masyarakat melalui optimalisasi jaminan kesehatan hingga mencapai Universal Health Coverage (UHC)," tegas Fawait.
Selain sektor kesehatan, Fawait juga melakukan langkah strategis yakni mendekatkan akses administrasi kependudukan hingga ke tingkat desa untuk memangkas hambatan jarak dan waktu.
"Mendorong Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai instrumen strategis penggerak ekonomi, bukan sekadar entitas pencari laba dan melaporkan kenaikan signifikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam satu tahun terakhir sebagai indikator penguatan kapasitas fiskal pembangunan," jelas Fawait.
Kegiatan bedah buku ini menjadi momentum refleksi bahwa kepemimpinan daerah menuntut keteguhan nilai.
Kolaborasi pemikiran antara tokoh nasional dan daerah ini diharapkan menjadi pelecut semangat bagi birokrasi di Jember untuk terus berinovasi di tengah keterbatasan.
"Kepemimpinan adalah tentang keberanian untuk membabat alas persoalan demi kesejahteraan rakyat yang berkelanjutan," pungkas Fawait. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


