Bupati Jember Minta PTPN Prioritaskan Warga Miskin Kelola Lahan Tidur
Usai diskusi panel prestisius bertajuk "Wajah Kemiskinan Ekstrem di Lahan Produktif: Siapa Bertanggung Jawab?" yang digelar di Universitas Jember. (Foto : M. Abdul Basid / TIMES Indonesia)

Bupati Jember Minta PTPN Prioritaskan Warga Miskin Kelola Lahan Tidur

Bupati Jember Muhammad Fawait menekankan pentingnya sinergi antara PTPN dan Perum Perhutani untuk menuntaskan masalah kemiskinan ekstrem yang masih menumpuk di area sekitar hutan dan perkebunan.

TIMES Jember,Selasa 14 April 2026, 12:22 WIB
412
M
M Abdul Basid

JEMBERBupati Jember Muhammad Fawait menekankan pentingnya sinergi antara PTPN dan Perum Perhutani untuk menuntaskan masalah kemiskinan ekstrem yang masih menumpuk di area sekitar hutan dan perkebunan.

Meskipun angka kemiskinan di Jember menunjukkan tren positif, Fawait menilai masalah ini belum tuntas sepenuhnya dan telah menjadi tantangan panjang selama lebih dari sepuluh tahun.

Ia menyatakan bahwa meskipun ada penurunan, upaya yang dilakukan belum benar-benar menjangkau akar permasalahannya, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan "sabuk hijau".

Dalam keterangannya usai menghadiri diskusi di Universitas Jember, Senin (13/4/2026), Fawait menegaskan bahwa BUMN yang beroperasi di wilayah Jember harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan warga di sekitarnya.

"Langkah ini selaras dengan target nasional Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai nol persen kemiskinan ekstrem di tahun 2029," tegasnya.

Untuk mendukung hal tersebut, Fawait mendorong beberapa poin strategis terdapat potensi lahan sekitar 36 ribu hingga 38 ribu hektare yang bisa dikelola masyarakat.

Ia meminta agar izin kelola ini diprioritaskan bagi penduduk miskin ekstrem yang terdaftar di desil satu Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) agar bantuan benar-benar tepat sasaran.

"Lahan-lahan tidur milik PTPN, baik di area kebun maupun perkotaan, didorong untuk dikelola dengan melibatkan pihak ketiga. Syarat utamanya adalah kewajiban menyerap tenaga kerja lokal untuk menciptakan dampak ekonomi langsung," mintanya.

Saat ini, tercatat ada sekitar 90 ribu kepala keluarga di Jember yang masuk kategori kemiskinan ekstrem—kondisi di mana mereka harus bekerja keras setiap hari hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar.

Meskipun Fawait mengakui bahwa laju penurunan angka kemiskinan di Jember tergolong yang tercepat di wilayah Tapal Kuda, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh berpuas diri.

Salah satu kendala yang ia soroti adalah minimnya keterlibatan Pemkab Jember dalam program hutan sosial yang selama ini dikelola langsung oleh pusat.

Ia berharap Kementerian Kehutanan dan Perhutani dapat meningkatkan koordinasi dengan daerah.

Menurutnya, pelibatan pemerintah daerah sangat krusial agar penggunaan data kemiskinan lebih akurat sehingga kebijakan yang diambil tidak salah sasaran.

"Pemkab harus dilibatkan supaya datanya akurat dan intervensinya tepat. Tanpa itu, kami khawatir terjadi salah diagnosis dalam penanganan kemiskinan," pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:M Abdul Basid
|
Editor:Dody Bayu Prasetyo

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jember, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.