Rektor UIN KHAS Jember Tekankan Al-Quran sebagai Pedoman Hidup
Menurut Prof Hepni, Al-Quran tidak cukup hanya dibaca, tetapi harus dipahami, difungsikan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
JEMBER – Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Hepni menegaskan pentingnya menjadikan Al-Quran sebagai satu-satunya pedoman hidup bagi umat manusia.
Pesan itu disampaikannya di hadapan dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember saat kegiatan buka puasa bersama, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, Al-Quran tidak cukup hanya dibaca, tetapi harus dipahami, difungsikan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Jika Al-Quran benar-benar dijadikan pedoman, maka kehidupan akan lebih terarah dan dimudahkan,” ujarnya.
Dalam tausiyahnya, Hepni menguraikan makna Al-Quran melalui pendekatan akronim. Ia menjelaskan bahwa Al-Quran bersifat quick to remember atau mudah diingat, sehingga siapapun dapat menghafal dan menjadikannya pegangan hidup.
Selain itu, Al-Quran juga memiliki nilai useful atau penuh manfaat bagi kehidupan manusia sepanjang masa.
Ia menyebut kitab suci tersebut sebagai kompas yang memberi arah, sehingga manusia tidak salah langkah dalam menjalani kehidupan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Al-Quran merupakan real guidance atau panduan nyata yang mampu membimbing manusia menuju jalan yang benar. Isi kandungannya, kata dia, dapat dijadikan rujukan dalam berbagai persoalan kehidupan.
Tak hanya itu, Al-Quran juga dinilai sebagai a life relevant, yakni tetap relevan di setiap zaman, termasuk di era digital saat ini. Hepni mencontohkan bahwa Al-Quran kini dapat diakses dan dipelajari melalui berbagai perangkat teknologi seperti gawai.
“Al-Quran juga merupakan never ending life, cahaya yang tidak pernah padam dan selalu menerangi kehidupan manusia,” tambahnya.
Kegiatan tersebut juga dihadiri jajaran pimpinan universitas, mulai dari para wakil rektor hingga kepala biro, serta unsur pimpinan Fakultas Dakwah seperti wakil dekan, ketua jurusan, dan koordinator program studi.
Sementara itu, Dekan Fakultas Dakwah Fawaizul Umam menyoroti rendahnya partisipasi dosen dalam berbagai kegiatan kampus. Ia mengaku kerap mendapat sorotan dari pimpinan universitas terkait hal tersebut.
Fawaizul menegaskan, penilaian kinerja dosen ke depan akan disesuaikan dengan tingkat kehadiran dan keterlibatan dalam kegiatan kampus.
“Otoritas penilaian SKP bukan hanya di tingkat fakultas, tetapi juga di rektorat. Dosen yang jarang hadir harus menyadari hal itu,” tegasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

