Pencarian Wisatawan Asal Cianjur di Pantai Papuma Dihentikan
Upaya pencarian terhadap Mohammad Sheva Yusuf (22), pemuda asal Kabupaten Cianjur yang hilang ditelan ombak di Pantai Papuma, akhirnya mencapai titik akhir.
JEMBER –
Upaya pencarian terhadap Mohammad Sheva Yusuf (22), pemuda asal Kabupaten Cianjur yang hilang ditelan ombak di Pantai Papuma, akhirnya mencapai titik akhir.
Memasuki hari kelima operasi pada Rabu (1/4/2026), Tim SAR Gabungan secara resmi menghentikan pencarian aktif dan beralih ke tahap pemantauan.
Peristiwa memilukan ini bermula pada Sabtu (28/3/2026) pagi lalu. Sheva, yang datang jauh-jauh dari Kampung Pasekon, Desa Cipendawa, Cianjur, mulanya berniat menikmati keindahan eksotis pantai selatan Jember bersama dua rekannya.
Nahas, dorongan untuk mengabadikan momen di lokasi yang ekstrem membawa mereka ke bibir pantai di bawah tebing Siti Inggil sebuah area yang masuk dalam zona larangan ketat bagi pengunjung.
Saat mereka sedang berswafoto (selfie) sekitar pukul 06.47 WIB, sebuah ombak besar menghantam tebing.
Dua rekannya berhasil menyelamatkan diri secara dramatis, namun Sheva tersapu arus kuat ke tengah laut dan hilang dalam sekejap.
Kepala BPBD Jember Edi Budi Susilo, melalui laporan resminya menyatakan bahwa hari kelima pencarian dilakukan dengan pengerahan kekuatan penuh.
Strategi pencarian dibagi menjadi tiga Search and Rescue Unit (SRU) untuk menyisir setiap sudut area kejadian.
"Melakukan manuver pencarian di perairan dengan perahu karet (LCR) milik Basarnas, menantang gelombang laut yang mencapai ketinggian 1,0 hingga 2,5 meteran dan melakukan penyisiran menyusuri garis pantai, tebing-tebing karang, serta area vegetasi di sepanjang Pantai Papuma dan sekitarnya," jelasnya.
"Mengoptimalkan teknologi drone milik Senkom untuk memantau titik-titik yang sulit dijangkau oleh mata manusia dari permukaan air maupun tebing," tambahnya.
Operasi SAR ini menjadi potret solidaritas berbagai unsur di Kabupaten Jember.
Sebanyak 15 instansi dan organisasi relawan bahu-membahu selama lima hari penuh, mulai dari BPBD Jember, Pos Pencarian & Pertolongan (Basarnas) Jember, TNI AL Puger, Satpolairud Polres Jember, Polsek dan Koramil Wuluhan, hingga PT Perhutani Alam Wisata (Econique).
Dukungan juga mengalir dari elemen relawan seperti MDMC, Siluman Rescue, Rangong Team, SAR Rimba Laut, Senkom, Relawan Barat Daya, Brandal Alas, hingga Relawan Ben Sromben yang setia mendampingi keluarga korban di lokasi.
Meskipun cuaca di lokasi dilaporkan cerah, kondisi gelombang laut yang fluktuatif dan luasnya area pencarian menjadi kendala utama.
Hingga pukul 16.00 WIB sore tadi, tidak ada tanda-tanda keberadaan korban.
"Berdasarkan hasil evaluasi dan koordinasi bersama Basarnas serta seluruh unsur Tim SAR Gabungan, diputuskan bahwa giat operasi pencarian secara aktif dihentikan. Namun, kami tidak lepas tangan begitu saja. Tim akan tetap melakukan pemantauan selama dua hari ke depan," ungkap Edi.
Oleh karenanya, Edi mengatakan bahwa tragedi ini menjadi pengingat keras bagi para wisatawan.
Pihak pengelola dan BPBD Jember kembali menegaskan pentingnya mematuhi batas aman pengunjung.
"Keindahan Pantai Selatan yang mempesona seringkali menyimpan risiko besar, terutama bagi mereka yang nekat memasuki zona terlarang demi konten media sosial. Saat ini, keluarga korban dilaporkan masih menunggu di sekitar lokasi, berharap ada titik terang dari tahap pemantauan yang akan dilakukan dalam 48 jam ke depan," tutup Edi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

