TIMES JEMBER, JEMBER – Seragam guru dahulu adalah simbol kehormatan. Ia bukan sekadar kain yang melekat di tubuh, melainkan identitas moral yang menandai kepercayaan publik. Di mata anak-anak sekolah dasar, guru adalah sosok ideal: berwibawa, dihormati, dan menjadi pintu masuk menuju segala kemungkinan hidup.
Tak berlebihan jika banyak orang tua dulu menggantungkan harapan masa depan anaknya pada profesi ini. Menjadi guru berarti memilih jalan pengabdian yang mulia, sekaligus jalan hidup yang menjanjikan kehormatan sosial.
Namun waktu bergerak, dan zaman berubah. Hari ini, seragam itu masih sama warnanya, tetapi maknanya perlahan memudar. Di tengah generasi Z yang tumbuh dalam lanskap ekonomi kompetitif dan dunia kerja yang fleksibel, profesi guru tak lagi menjadi pilihan utama. Bukan karena generasi ini kehilangan idealisme, melainkan karena realitas yang menyertai profesi guru kian menjauh dari janji mulianya.
Salah satu sebab utama adalah beban administrasi yang kian menumpuk. Guru hari ini tidak hanya dituntut mengajar dan mendidik, tetapi juga menjadi operator data, pengisi laporan, penyusun dokumen, dan pelaksana birokrasi yang berlapis-lapis.
Ruang refleksi pedagogis menyempit, digantikan tumpukan kertas dan aplikasi yang harus diselesaikan tepat waktu. Dalam situasi seperti ini, guru kerap terjebak pada rutinitas administratif yang menyita energi dan waktu, hingga esensi pendidikan relasi manusiawi antara guru dan murid perlahan terkikis.
Masalah ini diperparah oleh kebijakan kurikulum yang kerap berubah tanpa jeda yang memadai. Setiap pergantian kepemimpinan, hampir selalu diikuti oleh penyesuaian kurikulum. Guru kembali diposisikan sebagai pelaksana eksperimen kebijakan, bukan sebagai subjek utama pendidikan.
Alih-alih diberi ruang untuk mematangkan proses pembelajaran, guru dipaksa beradaptasi secara instan terhadap perubahan yang sering kali belum siap secara konseptual maupun teknis. Pendidikan pun kehilangan stabilitasnya, sementara guru menjadi pihak yang paling lelah menanggung konsekuensinya.
Persoalan kesejahteraan tak kalah menentukan. Meski sering digaungkan bahwa guru adalah profesi pengabdian yang tak boleh diukur dengan materi, realitas hidup menuntut lebih dari sekadar idealisme. Guru juga memiliki keluarga, kebutuhan hidup, dan masa depan yang harus dipikirkan.
Ketika profesi lain menawarkan penghargaan yang lebih layak secara ekonomi, wajar jika banyak lulusan pendidikan memilih jalan berbeda. Mengandalkan narasi keikhlasan tanpa diiringi kebijakan kesejahteraan yang adil justru menjadikan guru rentan, baik secara ekonomi maupun psikologis.
Di tengah kondisi tersebut, profesi guru juga menghadapi tekanan sosial yang semakin kompleks. Hubungan antara sekolah dan orang tua murid kerap bergeser dari kemitraan menjadi relasi transaksional.
Guru tidak lagi sepenuhnya dipercaya sebagai pendidik yang memiliki otoritas moral. Teguran terhadap siswa kerap disalahartikan sebagai kekerasan, disiplin dianggap pelanggaran, dan wibawa guru perlahan runtuh di hadapan tuntutan yang serba sensitif. Guru dituntut sempurna, namun jarang diberi ruang untuk salah.
Tak mengherankan jika pada akhirnya profesi guru kalah bersaing dengan pilihan karier lain yang menawarkan kepastian ekonomi, jenjang karier jelas, dan penghargaan yang sepadan.
Dunia industri, perusahaan swasta, hingga sektor kreatif menjadi magnet baru bagi generasi muda. Bukan karena mereka tak menghargai pendidikan, melainkan karena profesi guru tak lagi dipersepsikan sebagai ruang hidup yang berkelanjutan.
Ironisnya, bangsa ini masih menggantungkan masa depannya pada pendidikan. Kita masih berharap lahirnya generasi cerdas, berkarakter, dan berdaya saing global. Namun harapan itu kerap lupa pada satu prasyarat mendasar: kualitas pendidikan tidak akan pernah melampaui kualitas guru yang dimilikinya. Presiden, menteri, dokter, pengusaha, dan ilmuwan semuanya pernah duduk sebagai murid di hadapan seorang guru.
Maka, persoalan menurunnya minat menjadi guru sejatinya bukan soal generasi yang berubah, melainkan sistem yang gagal memuliakan profesi pendidik secara utuh. Guru tidak menuntut dipuja, tetapi dihargai secara adil. Mereka tidak meminta dielu-elukan, tetapi diberi ruang untuk mendidik dengan tenang, bermartabat, dan sejahtera.
Jika seragam guru hari ini tampak tak lagi menarik, mungkin bukan karena warnanya pudar, melainkan karena makna di baliknya tak lagi dijaga. Mengembalikan kehormatan profesi guru bukan sekadar tugas guru itu sendiri, tetapi tanggung jawab negara dan masyarakat.
Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih kurikulum dirancang, melainkan oleh seberapa sungguh kita menjaga orang-orang yang menghidupkan pendidikan dari ruang kelas paling sederhana.
***
*) Oleh : Rioga Fransistyawan, S.Pd., Founder Ruang Cerita & Mahasiswa Pascasarjana UIN KHAS Jember.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |