TIMES JEMBER, JAKARTA – Indonesia City Investment Accelerator (ICIA) resmi diluncurkan dalam rangkaian Indonesia Economic Summit 2026 (IES 2026) di Jakarta, Selasa - Rabu (3-4/2/2026).
Inisiatif ini dihadirkan sebagai upaya strategis untuk mempercepat kesiapan investasi kota-kota di Indonesia yang kian menghadapi tekanan pertumbuhan urban dan keterbatasan pembiayaan.
Urgensi pembentukan ICIA tercermin dari laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhir 2025 yang mencatat kawasan urban Jakarta dan sekitarnya telah menjadi kawasan perkotaan terpadat di dunia dengan hampir 42 juta penduduk, menggeser Tokyo.
Kondisi ini sekaligus merefleksikan pesatnya pertumbuhan kota-kota lain di Indonesia yang membutuhkan dukungan investasi berkelanjutan.

Namun, tantangan pembiayaan masih menjadi persoalan utama. Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kota di Indonesia umumnya masih bergantung pada transfer pemerintah pusat hingga 70–80 persen yang bersifat terikat.
Sementara itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) rata-rata masih di bawah 10 persen dan sebagian besar terserap untuk belanja operasional.
Di sisi lain, meskipun pinjaman daerah dan obligasi secara regulasi dimungkinkan, implementasinya kerap terhambat oleh proses persetujuan berlapis, batas utang yang ketat, serta lemahnya basis aset daerah.
Keterbatasan fiskal tersebut diperparah oleh rendahnya kesiapan proyek dan kapasitas teknis di tingkat kota. Banyak proyek strategis belum memiliki struktur pembiayaan, penilaian risiko, dan kesiapan kelembagaan yang memadai, sehingga sulit menarik investor meskipun kebutuhan dan minat modal cukup besar.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang turut menyaksikan peluncuran ICIA menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Jakarta tidak hanya tercermin dari angka, tetapi juga dari ketahanan kota dalam menghadapi tekanan urban.
“Mempertahankan daya saing di tengah banjir, kemacetan, dan kompleksitas kota global membutuhkan tata kelola yang kuat serta koordinasi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Chief Operating Officer Indonesian Business Council (IBC) sekaligus salah satu inisiator ICIA, William P. Sabandar, menegaskan bahwa tantangan utama investasi perkotaan berada pada aspek eksekusi.
Menurutnya, Indonesia tidak kekurangan rencana maupun minat modal, namun banyak proyek masih terhenti di antara tahap perencanaan, persetujuan, dan pembiayaan. “Akibatnya, proyek-proyek prioritas belum sepenuhnya siap investasi,” katanya.
ICIA diluncurkan para inisiator yang terdiri dari Bambang Susantono, Dekan Cities and Local Governments Institute (CLGI) Asia-Pasifik; Rachmat Kaimuddin, Deputi Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Juga; Sofyan Djalil, Chief Executive Officer Indonesian Business Council William P. Sabandar, Chief Operating Officer IBC; serta Silvia Halim, Deputi Bidang Infrastruktur dan Fasilitas Otorita Ibu Kota Nusantara periode 2023–2024.

Peluncuran tersebut turut disaksikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim.
Ke depan, ICIA akan menjadi wadah kolaboratif yang mempertemukan pemerintah, sektor swasta, investor, lembaga pembiayaan, serta pemangku kepentingan perkotaan lainnya. Platform ini diharapkan mampu memperkuat kesiapan proyek dan membuka jalur investasi kota yang lebih kredibel.
Peluncuran ICIA di IES 2026 menandai pergeseran fokus dari sekadar perencanaan menuju aksi nyata dalam menjawab tantangan investasi perkotaan yang inklusif dan berkelanjutan. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: City Investment Accelerator Diluncurkan di IES 2026, Jawab Tantangan Investasi Kota
| Pewarta | : Sutrisno |
| Editor | : Ronny Wicaksono |