TIMES JEMBER, MALANG – Pameran seni Dua Duo yang diadakan Hamur Art Space di Jl Cisadane, Purwantoro, Kota Malang, kali ini berfokus untuk mengenalkan teknik cyanotype. Pameran ini menampilkan hasil karya dua perupa muda, Ilyas Hidayatullah dan Aksan.
Dalam pameran yang ini akan berlangsung hingga 7 Februari 2026 ini, keduanya menampilkan karya dengan tema “Home” sebagai bentuk mengekspresikan makna “rumah/keluarga” bagi meereka.
Ilyas, memaknai keluarga adalah mereka yang sedarah, di mana ia dapat merasakan kehangatan, keceriaan, dan kebahagiaan.
Berbanding terbalik dengan Aksan. Perupa asal Jogja ini memaknai keluarga tak hanya karena ikatan darah saja, tetapi orang luar juga bisa menjadi keluarga baginya.
Aksan, perupa yang turut menghadirkan karya cyanotype dalam pameran Dua Duo. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
Dalam karyanya, Ilyas banyak memoles terkait anggota keluarganya dan aktivitas sehari-hari mereka dalam berbagai karya.
Sedangkan Aksan, banyak menunjukkan karya mengenai kondisi tempat tinggalnya dan sedikit isu mengenai mental health, seperti Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).
“Inspirasi ini berdasarkan pengalaman pribadi dan orang-orang terdekat saya,” ujar Aksan.
Karya mereka dibuat menggunakan teknik cyanotype, yaitu teknik fotografi yang menghasilkan gambar dengan memanfaatkan bahan kimia dan cahaya matahari untuk menciptakan kesan cyan (biru) yang mencolok.
Cyan atau biru ini dihasilkan oleh reaksi kimia, amunium yang sensitif cahaya dan potassium yang mengikat warna biru.
Cara kerja teknik ini adalah dengan menggoreskan cairan kimia di atas media, kemudian objek yang akan diambil gambarnya di taruh di atasnya dan dijemur di bawah sinar matahari langsung.
Pengunjung yang terlihat melihat hasil karya Aksan dan Ilyas. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
Setelah kering, gambar dibilas dengan air yang mengalir. Saat ini, cyanotype sudah banyak dikreasikan menggunakan teh dan kopi. Sehingga warna yang dihasilkan menjadi kecoklatan.
Dulu teknik ini untuk copy paste rumus kimia saja, kemudian dikenalkan lebih luas oleh seorang botanis dengan dia mencetak bunga.
Menurut Ilyas, teknik ini cukup ajaib, karena perupa tidak dapat menentukan bagaimana hasil gambar mereka, hal ini karena dipengaruhi oleh cahaya matahari sebagai faktor utama.
“Kita mengandalkan intuisi, jadi cahaya mataharinya beda hasilnya juga akan beda,” imbuh alumni prodi Sejarah Universitas Negeri Malang tersebut.
Selain itu, waktu ketika menjemur karya ini juga harus pas, beda jam dan waktu akan sangat mempengaruhi hasil karya. Kalau menggunakan media kertas, waktu menjemur sekitar 15 menit. Dan jika medianya kain, maka membutuhkan waktu satu jam.
Saat ini Ilyas juga berfokus untuk mengedukasi masyarakat terkait teknik ini. Ia pernah mengadakan tour di tujuh titik cafe di Kota Malang. Pemuda tersebut juga sudah me-launchingkan katalog teknik cyanotype miliknya. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Pameran Seni Dua Duo di Malang, Ajang Edukasi Teknik Cyanotype
| Pewarta | : Miranda Lailatul Fitria (MG) |
| Editor | : Ronny Wicaksono |