UMKM Sekarkijang Tembus Penjualan Rp20,34 Miliar di KKI 2026
Kiprah UMKM dari kawasan Sekarkijang yang mencakup Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang semakin menunjukkan hasil.
JAKARTA – Kiprah UMKM dari kawasan Sekarkijang yang mencakup Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang semakin menunjukkan hasil.
Dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026, produk UMKM dari wilayah tersebut berhasil mencatat nilai penjualan daring hingga Rp20,34 miliar.
Capaian tersebut merupakan akumulasi penjualan UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember hingga 23 Agustus 2026. Angka tersebut sekaligus mengantarkan KPwBI Jember menjadi yang tertinggi secara nasional dalam kategori penjualan daring KKI 2026.
Prestasi serupa juga ditorehkan dua UMKM asal Sekarkijang.
Ketakasi menjadi UMKM dengan penjualan daring tertinggi secara nasional setelah membukukan transaksi Rp9,68 miliar.
Sementara Argopuro Walida berada di posisi ketiga nasional dengan nilai penjualan Rp5,53 miliar.
Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa UMKM daerah mampu menghasilkan produk yang memiliki daya saing di pasar yang lebih besar.
Dengan penguatan kapasitas dan akses pasar, produk lokal tidak hanya berpeluang memperluas pasar nasional, tetapi juga memiliki kesempatan memasuki pasar internasional.
Secara nasional, penyelenggaraan KKI 2026 mencatat nilai penjualan sementara sebesar Rp144,2 miliar hingga 22 Agustus 2026.
Nilai itu mengalami pertumbuhan 46 persen dibandingkan capaian pada tahun sebelumnya.
Selain penjualan, transaksi business matching (BM) ekspor juga menunjukkan perkembangan positif.
Nilainya mencapai Rp169,9 miliar dengan mempertemukan 192 UMKM dengan pembeli dari 16 negara.
Adapun BM pembiayaan tercatat sebesar Rp285 miliar, meningkat 30,3 persen jika dibandingkan rata-rata capaian selama tiga tahun terakhir.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman mengatakan, KKI memiliki peran lebih luas daripada sekadar mempertemukan pelaku UMKM dengan konsumen.
Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembangunan ekosistem yang diperlukan agar UMKM dapat berkembang secara konsisten dan memiliki daya saing.
“Setiap tahun, dengan penuh rasa syukur kami adakan KKI agar UMKM Indonesia bisa terus tumbuh, tangguh, dan berdaya saing. Tapi, UMKM perlu mempunyai ekosistem yang menjadi tujuan berkelanjutan,” ujar Aida dalam Seremoni Penutupan KKI 2026 di JICC Jakarta, Minggu (23/8/2026).
KKI 2026 diikuti lebih dari 1.860 UMKM dari berbagai wilayah Indonesia.
Hampir 560 UMKM hadir dalam pameran luring dengan membawa produk unggulan masing-masing.
Produk yang ditampilkan antara lain wastra, ready to wear, makanan dan minuman, home decor, serta berbagai karya kreatif generasi muda.
Capaian UMKM Sekarkijang tersebut tidak terlepas dari proses pembinaan yang dilakukan sebelum pelaksanaan KKI. Salah satu program yang menjadi bagian dari rangkaian Road to KKI 2026 adalah Sekarkijang Creative Fest (SCF) 2026.
Dalam proses awal, terdapat 169 UMKM yang mengikuti kurasi.
Sebanyak 97 UMKM kemudian melanjutkan ke tahap pengembangan melalui sejumlah program, mulai dari pendampingan, workshop, showcase, business matching hingga onboarding.
Rangkaian kegiatan SCF x Banyuwangi Ethno Carnival 2026 turut memperluas keterlibatan pelaku UMKM.
Sebanyak 624 UMKM berpartisipasi dan kegiatan tersebut dikunjungi 11.992 orang.
Nilai transaksi yang tercatat mencapai sekitar Rp1,39 miliar, sedangkan business matching pembiayaan mencapai Rp2,8 miliar.
Hal ini menunjukkan bahwa ketika UMKM mendapatkan pendampingan, akses pasar, pembiayaan, serta ruang promosi yang tepat, potensi pelaku UMKM bisa berkembang sangat besar.
Dalam KKI 2026, empat UMKM Sekarkijang mendapat kesempatan tampil langsung dalam pameran, yakni Batik Banjarwangi, Batik dan Tenun Rolla, Dapur Sehati, dan Pilar Factory.
Di sisi lain, sebanyak 28 UMKM Sekarkijang mengikuti pameran melalui kanal daring.
Tiga UMKM lainnya, yaitu Argopuro Walida, Doa Kopi, dan Mitratani Dua Tujuh, turut ambil bagian dalam business matching ekspor sebagai upaya memperluas jaringan usaha dan menjajaki pasar luar negeri.
Pengembangan UMKM Sekarkijang juga diarahkan pada penguatan ekosistem usaha dan rantai nilai.
Sektor kopi menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian melalui pembentukan Holding Kopi Sekarkijang.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan konsistensi mutu dan keberlanjutan pasokan, sekaligus membuka akses yang lebih luas terhadap pasar dan sumber pembiayaan.
Tata kelola UMKM di sektor kopi juga menjadi bagian dari penguatan tersebut.
Pelaksanaannya melibatkan sejumlah pihak, di antaranya Bank Indonesia, pemerintah daerah, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Politeknik Negeri Jember, Perhutani, pelaku industri, serta mitra strategis lainnya.
Penguatan kapasitas pelaku usaha juga dilakukan melalui program Cangkir Barista dan Citra Nusa. Program Cangkir Barista berfokus pada pengembangan wirausaha kopi dengan memberikan peningkatan kompetensi, sertifikasi nasional, serta pendampingan usaha bagi barista.
Sedangkan Citra Nusa ditujukan untuk meningkatkan daya saing UMKM di sektor wastra. Program tersebut mencakup peningkatan kapasitas, inovasi desain, serta pengembangan produk yang diarahkan untuk memenuhi peluang pasar ekspor.
KPwBI Jember berkomitmen mempertahankan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, lembaga keuangan, dunia usaha, akademisi, komunitas, hingga mitra strategis lainnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun mancanegara.
Dengan demikian, UMKM Sekarkijang dapat terus meningkatkan kapasitas, memperkuat daya saing, dan berkembang menjadi pelaku usaha yang lebih maju.
Semangat tersebut sejalan dengan tema KKI 2026, “Beudaya Meusare Sare” atau Berdaya Bersama-sama. Keberhasilan UMKM Sekarkijang menunjukkan bahwa produk lokal memiliki peluang besar untuk menjadi pemain di pasar yang lebih luas ketika didukung pembinaan, akses pembiayaan, promosi, dan ekosistem usaha yang memadai.
“Cintai, bangga, dan pakai produk UMKM Indonesia. Karena kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi UMKM Indonesia menjadi tuan rumah produk Indonesia dan bisa tumbuh, tangguh, dan berdaya saing,” pesan Aida. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


